Kamis, 29 Mei 2014
‘Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu’
Dalam kitab Ramayana, alkisah ada seorang raja yang mengundurkan diri dan diserahkan pada anaknya. Raja tersebut yang menjadi Begawan Wisrawa, menyerahkan pada putranya Prabu Danareja di kerajaan Lokapala.
Di negeri yang lain, Alengka, diperintah oleh Prabu Sumali yang dibantu oleh adiknya Arya Jambumangli, dan puterinya yang sangat cantik sedang diperebutkan oleh para raja. Namanya Dewi Sukesih.
Setiap raja yang melamar Dewi Sukesih ini di bunuh (harus berhadapan dalam perang tanding) pamannya, Arya Jambumangli. Sehingga tak ada lagi raja-raja yang mampu mengalahkan pamanda Dewi Sukesih. Satu-satunya raja yang masih ada ialah putera Begawan Wisrawa, Prabu Danareja. Namun raja ini kalah kuat ilmunya, kalah kuat oleh pamanda Dewi Sukesih. Oleh karenanya Begawan Wisrawa turun dari pertapaan. ”Ada apakah anakku, dalam tapaku, aku melihat kegelapan. Mengapa negeri ini, yang kita cintai, dalam kesengsaraan? Air bening untuk hidup rakyat tidak lagi ramah. Seluruh air kembali lagi pada sumbernya di bawah samudera. Bunga-bunga layu sebelum berkembang, buah yang ada pun tak sempat masak. Diapakan negeri kita ini, wahai anakku?”
”Wahai ayahanda, seluruh kehidupanku dirampas oleh cinta Dewi Sukesih, dan aku tak mampu memikirkan bangsa ini, negeri ini. Yang kupikirkan adalah kecantikan Dewi Sukesih”, berkata Prabu Danareja.
”Wahai anakku, Sang Dewa marah padamu. Karena engkau telah mematikan kesuburan negara ini dengan asmara, wahai anakku, jangan jadikan asmara ke dalam pekerjaan yang besar. Karena asmara adalah dunia kecil yang mampu menghancurkan dunia yang besar”, kata Begawan Wisrawa.
”Wahai anakku, jangan engkau melihat kebenaran-kebenaran yang ada di muka bumi ini, melalui perasaan asmaramu. Keluhuran nilai akan ternoda, tak bermakna, manakala diteropong oleh perasaan asmaramu. Namun demikian, aku ayahmu pernah merasakan perasaan asmara. Biar aku yang melamarkan, menyunting Dewi Sukesih. Ayahnya adalah sahabatku. Cintaku untukmu wahai anakku, biarlah aku, ayahmu mewakili datang ke kerajaan Alengka.”
Sesampainya Begawan Wisrawa di kerajaan Alengka, kebahagiaan batin dari raja Alengka, Prabu Sumali, menyatu dalam pelukan mesra dengan sahabatnya.
”Wahai sahabatku Prabu Sumali, ada apakah? Kesenduan di matamu tak mampu engkau sembunyikan”, bertanya Begawan Wisrawa.
”Wahai sahabatku Begawan Wisrawa, gara-gara anakku, darah para raja harus mengalir di negeri yang kucintai ini, Alengka.”
”Karena itu aku datang untuk menyunting puterimu, untuk anakku.”
Maka dipanggillah Dewi Sukesih oleh ayahandanya, dan diceritakan akan disunting oleh seorang raja dari Lokapala.
”Wahai ayahku, aku mau dikiwini oleh seorang raja atau oleh orang miskin sekalipun. Asal mampu memedarkan, menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.”
”Wahai puteri sahabatku, calon suamimu, anakku, takkan mampu. Dan siapapun takkan mampu menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, kecuali aku. Harus kutebus makna ini dengan meninggalkan gemerlap kekayaan dan kekuasaan sebagai raja. Namun demikian, biarlah, untuk anakku dan untuk aku, akan aku pedar Sastra Jendra tersebut”, kata Begawan Wisrawa kepada putri Prabu Sumali sahabatnya.
Berkata Begawan Wisrawa pula pada sahabatnya, Prabu Sumali,
”Wahai sahabatku, akan aku bawa puterimu, siapkan tempat, sebuah taman sunyi yang hanya ada bunga Kenanga.”
Maka Begawan Wisrawa membawa Dewi Sukesih. Manakala masuk ke taman yang indah, Begawan Wisrawa memandang Dewi Sukesih dengan kecintaan seorang ayah pada anaknya.
”Kesinilah putriku.” Saat itu pula Dewi Sukesih merasa berdiri di bumi ini, dan dunia ini hanya ada di telapak kaki Dewi Sukesih dan Begawan Wisrawa, serta mampu menggapai bulan yang ada, tidak hanya satu, tapi tiga.
”Wahai Dewi Sukesih, engkau mampu menggenggam bulan. Keanggunan dan kemolekan bulan sejak dulu selalu menghina dan memperkecil makna duniawi. Namun dihadapanmu wahai putriku, sang bulan meronta. Cahayanya engkau ambil alih ke dalam jiwamu.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar